Title
Sektor Alas Kaki Diharapkan Dapat Membantu Atasi Devisit Neraca Perdagangan Negara Indonesia
Ditulis oleh Aprisindo   
Selasa, 18 Desember 2018 06:31
Disaat kondisi seperti sekarang ini, dimana perekonomian negara sedang mengalami devisit akibat nilai tukat dollar terhadap rupiah yang cukup tinggi pemerintah dalam hal ini Direktorat Ekspor Produk Industri dan Pertambangan Kemendag berupaya untuk mendorong  meningkatkan nilai ekspor produk Indonesia guna mengatasi devisit, sebagai pilihan produk tersebut adalah alas kaki, hal di disampaikan Direktur Ekspor Produk Industri Kemendag Merry Maryati dalam acara FGD peningkatan ekspor alak kaki di Hotel Cemara pada tanggal 22 Oktober 2018.
         Lebih lanjut Merry menjelaskan, bahwa industri alas kaki merupakan industri padat karya yang banyak menyumbang devisa bagi negara, untuk itu dengan adanya FGD diharapkan bisa memberi masukan, serta program apa yang harus dikerjakan bersama-sama demi tercapainya peningkatan ekspor produk alas kaki Indonesia. Mengingat FGD ini telah melibatkan beberapa intansi terkait di Kemendag serta dari  Bea dan Cukai, Karantina Hewan, BKPM, BKF Kemenkeu, Kementerian Perindustrian dan Aprisindo serta pelaku usaha industri alas kaki,  hal ini diharapkan agar permasalahan yang dihadapi industri alas kaki langsung bisa terjawab.
          Sementara itu menurut Direktur Eksekutif APRISINDO Firman Bakri menyampaikan ekspor alas kaki Indonesian selama ini selalu tumbuh. Dalam lima tahun terakhir value ekspor tumbuh sebesar 6,4 %. Meski nilai ekspor alas kaki Indonesia tumbuh, namun pertumbuhannya masih kalah dengan Vietnam. Pasar terbesar alas kaki Indonesia adalah Uni Eropa, Amerika dan China. Pada tahun 2017 nilai ekspor alas kaki sebesar USD 4,9 milyar , dari jumlah tersebut sebesar 40 %  ekspor ke Uni Eropa, 27 % ekspor ke Amerika Serikat dan 10 % ke China.
           Lebih lanjut Firman menyampaikan bahwa Vietnam merupakan negara pesaing utama produk alas kaki  Indonesia, sementara negara pesaing baru lainnya yaitu Cambodia dan Myanmar. Mengingat kedua negara tersebut peningkatan ekspornya mencapai 400 % dan jika negara ini bisa mempertahankan tentunya Indonesia juga akan tersalip. Permasalah utama yang dihadapi industri alas kaki Indonesia  diantaranya adalah  kurangnya bahan baku, masalah keteragakerjaan dan perjanjian dagang dengan negara sahabat. Saat ini Vietnam sebagai negara pesaing utama produsen alas kaki dunia sudah melalukan perjanjian dagang dengan Uni Eropa dengan demikian Vietnam bisa mendapatkan BM 0% untuk ekspor ke Uni Eropa semantara Indonesia belum ada karena masih dalam proses sehingga jika Indonesia ekspor ke Eropa masih dikenakan BM sekitar 11% hal ini tentunya sangat memberatkan industri alas kaki Indonesia. Untuk itu dengan adanya FGD ini diharapkan sektor industri alas kaki akan terbantu dengan begitu dimungkinkan untuk ekspor juga akan bisa meningkat, ujar Firman.
            Sementara menurut Sahrial dari APRISINDO Bandung menjelaskan, bahwa saat ini hubungan antara asosiasi dengan ATDAG dan IPTC kurang baik, sehingga untuk program pengenalan produk Indonesia diluar negeri, khususnya alas kaki kurang maksimal, sebagai contoh di CV. Fortuna Shoes beberapa waktu lalu pernah dikunjungi beberapa calon ATDAG dan ITPC, namun hingga kini belum ada tindak lanjutnya, untuk itu perlu adanya pertemuan khusus antara APRISINDO dan ATGAD dan ITPC guna membahas masalah program pengenalan produk alas kaki diluar negeri agar upaya pemerintah untuk mendorong nilai ekspornya akan tercapai.        Sementara Kasubdit Ekspor Sihombing selaku penyelenggara FGD mengharapkan agar hasil FGD ini bisa bermanfaat bagi industri alas kaki dalam rangka peningkatan ekspor, dan pertemuan ini tentunya akan dilanjutkan dengan pertemuan lain tentunya dalam rangka mendorong ekspor alas kaki Indonesia mengingat industri ini merupakan industri yang diprioritaskan.