Title
Dampak Teknologi Disruptif pada Industri Manufaktur Indonesia
Ditulis oleh Aprisindo   
Selasa, 18 Desember 2018 07:40
Centre for Strategic and International Studies (CSIS) bekerjasama dengan Education and Consultancy Services IfM, University of Cambridge di Inggris, dan Asian Development Bank (ADB)  pada tanggal 29 November 2018 telah mengadakan  acara Focus Group Discussion (FGD): Dampak Teknologi Disruptif pada Industri Manufaktur Indonesia bertempat di Gedung CSIS Jakarta.
          Pada kesempatan tersebut Dr David Leal-Ayala  dari Education and Consultancy Services IfM menyampaikan, bahwa tujuan FGD ini adalah untuk mempertemukan para pemangku kepentingan utama industri alas kaki dan garment di Indonesia untuk membahas peluang dan tantangan dari adanya disruptif teknologi (teknologi yang terganggu) khususnya pada industri manufaktur di Indonesia. FGD ini juga bertujuan untuk mengidentifikasi tantangan dan peluang sektoral dan lintas sektoral dari penerapan teknologi baru dalam jangka pendek dan panjang, dan membahas temuan yang muncul dari rangkaian proyek lainnya.
      Dalam diskusi tersebut dipandu Dr David Leal-Ayala dan Dr Yuta Hirose dari Education and Consultancy Services IfM, University of Cambridge di Inggris dengan peserta Sekjen APRISINDO Lany Sulaiman, Margaret dari PT. Adis Dimension Footwear, Haryo Aswicahyono dari CSIS, Mety dari PT. Ethree, Perwakilan dari PT. Brothers (garment), serta redaksi APRISINDO.
         Sebagai hasil dalam diskusi tersebut bahwa peluang untuk mendapatkan dan memanfaatkan dari digitalisasi tersebut, yang meliputi; Pertama. inovasi produk / layanan; produk dan layanan baru dan lebih fungsional. Kedua. proses inovasi: proses produksi yang lebih efisien dan fleksibel. Ketiga. inovasi rantai suplai; rantai pasokan yang lebih terintegrasi, dioptimalkan dan dapat dikonfigurasi ulang. Keempat. pengiriman produk / layanan: pemahaman yang unggul, dan tanggapan terhadap kebutuhan pelanggan, hal tersebut untuk 5-10 tahun kedepan.
           Pada kesempatan tersebut Dr. Davi Leal juga menyampaikan, bahwa  dalam lingkup bisnis di mana lebih banyak kasus melaporkan peningkatan efisiensi proses (tunggal, banyak proses + seluruh pabrik efisiensi): sekitar 30% dari contoh; Pengurangan biaya tenaga kerja: cacat dan kesalahan: Tautan Kebijakan mencapai  10% - 16 %. Misal ; Pengurangan biaya energi: mencapai 6% dari ;  Peningkatan kinerja pengiriman & layanan: mencapai 6% dari contoh.
           Sedangkan  Sekjen APRISINDO Lany Sulaiman  menyampaikan beberapa hambatan dan tantangan yang dihadapi industri alas kaki di Indonesia , diantaranya masalah tersedianya bahan baku didalam negeri yang kurang sehingga harus impor. sementara  untuk produksi bahan baku didalam negeri sendiri, sebagaimana yang dilakukan industri penyamak kulit, sebagai pemasok bahan baku untuk industri alas kaki juga terkendala, bahan kulit yang sebagian juga masih impor terkendala dengan regulasi .
       Lebih lajut sekjen menjelaskan saat ini produsen alas kaki sangat memerlukan bantuan dari pemerintah , diantaranya intensive Tax Amnesty seperti  kemudahan investasi, pengurangan pajak dan lainnya, Vietnam merupakan negara pesaing industri alas kaki Indonesia namun saat ini Vietnam sudah melakukan perjanjian dagang dengan Eni Eropa sehingga produk alas kaki yang masuk ke Uni Eropa bebas Bea Masuk sementara Indonesia belum ada perjanjian dagang sehingga alas kaki Indonesia yang masuk ke Vietnam masih dikenai Bea Masuk dikisaran 11 %. Sedangkan disruptif teknologi akan mempengaruhi industri di Indonesia, khususnya industi alas kaki sekala kecil yakni pada SDM-nya yang belum siap dan harus disiapkan, namun untuk sekala besar yang memproduksi sepatu Banded seperti PT. Adis Dimension Footwear tentunya tidak terlalu bermasalah dengan adanya industry 4.0.
            Sementara dari perwakilan PT. Adis Dimension Footwear Margaret mengharapkan adanya sinergi antara pembuat mesin dengan perusahaan, sehingga tujuan hasil dari proses produksi sama dengan fungi dan maksud dari teknologi itu sendiri dibuat.
             Disrupsi pada industri manufaktur dapat berakibat negatif jika salah mengambil langkah strategis. Sebaliknya, disrupsi mempunyai kesempatan untuk dapat berinovasi serta berevolusi jika dilihat secara positif. Saat ini, industri manufaktur tidak lepas dari pengaruh tekanan teknologi, ekonomi, sosial, lingkungan, serta tren pasar yang saling berkaitan. Untuk itu setiap industri harus bisa melakukan inovasi. Disrupsi pada sektor manufaktur merupakan bagian dari transformasi. Untuk itu, dari temuan-temuan FGD tersebut diharapkan dapat membantu dalam mendukung pembangunan inovasi industri di masa depan, dan juga kemajuan kebijakan daya saing di Indonesia.