Title
Apa Revolusi Industri 4.0 ?.. & Sudah Siapkah Industri Alas Kaki Menghadapi
Ditulis oleh Aprisindo   
Rabu, 27 Pebruari 2019 03:50
Persiapan  untuk menghadapi revolusi industri 4.0 adalah yang sedang dilakukan oleh dunia industri dan manufaktur di dunia. Maka tidak heran, jika banyak forum digelar untuk membahas revolusi industri 4.0. Industri 4.0 merupakan nama tren otomasi dan pertukaran data terkini dalam teknologi pabrik. Istilah ini mencakup sistem siber-fisik, internet untuk segala, komputasi awan (cloud), dan komputasi kognitif. Namun secara garis besar, revolusi industri 4.0 merupakan integrasi antara dunia internet atau online dengan dunia usaha atau produksi di sebuah industri. Artinya, semua proses produksi ditopang dengan internet.
         Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengatakan, bahwa revolusi industri 4.0 merupakan sesuatu yang tidak bisa dihindarkan, namun menjadi peluang baru, sehingga Indonesia perlu mempersiapkan diri. Jadi, kita perlu menginformasikan kepada para pemangku kepentingan bahwa industri 4.0 ini bukan hanya di depan mata, tetapi sudah berjalan. Ke depan, kebijakan industri harus selaras disesuaikan dengan perkembangan teknologi. Beberapa industri dalam negeri yang sudah siap menjalankan industri 4.0, dalam proses pengoperasinya adalah industri semen, petrokimia, automotif, serta makanan dan minuman, ujar Menteri Airlangga.
          Sekarang, industri automotif sudah menggunakan robotik dalam pengoperasiannya. Mereka juga sudah menggunakan infrastruktur internet of think untuk beroperasi. Ke depan, sektor jasa dan yang lainnya juga bisa memanfaatkan data ataupun artificial intelligence, pungkasnya.
Industri 4.0 juga akan meningkatkan produktivitas, membuka kesempatan kerja, dan membuka pasar hingga ke luar negeri. Implementasi industri 4.0 akan menambah lapangan kerja baru yang memerlukan keterampilan khusus. Sehingga kehadiran industri 4.0 tidak dianggap mengancam serapan tenaga kerja, namun menambah tenaga kerja baru dengan bidang yang berbeda.
        Pemerintah juga tengah gencar mensosialisasikan revolusi industri 4.0 di Indonesia. Meski keberadaan hambatan untuk memgimplementasikan industri 4.0 juga tidak dapat dihindari, seperti konektivitas internet. Hal ini masih menjadi PR untuk Pemerintah, agar seluruh pelosok negeri mendapatkan akses internet.
             Sementara menurut Direktur Eksekutif APRISINDO Firman Bakri mengatakan, untuk industri alas kaki jika dilihat dari sisi infrastruktur internet, diantaranya pada sistim produksi seperti penerimaan order yang secara langsung /on line bisa terkoneksi  dengan divisi lainnya misalnya kesediaan bahan baku, sistim produksi , QC, pengepakan hingga pengiriman, khususnya bagi industri yang sekala besar. Dari sisi SDM industri besar juga sudah siap. Namun demikian di industri alas kaki ada bagian dalam proses produksi yang tidak bisa menggunakan robotik, namun tetap menggunakan tenaga manusia. Hal  ini khususmya bagi industri alas kaki yang memproduksi sepatu kerja / kulit yang baru bisa dijahit dengan manual.
            Dalam industri 4.0 terdapat evesiensi tenaga kerja, akan menemui kendala hukum manakala harus terjadi pemberhentian tenaga kerja, karenanya regulasi harus dipersiapkan dalam rangka untuk implementasi industri 4.0. Sejalan dengan industri 4.0 yang tengah bergulir, sangat sulit berjalan secara sendirian. Kita harus menghadapi ini bersama-sama. Harus berkolaborasi agar bisa membentuk ekosistem digital yang lebih kuat di tengah gempuran ekspansi asing. (R)