Title
Perang Dagang AS-China Buka Peluang Bagi Industri di Indonesia
Ditulis oleh Aprisindo   
Selasa, 16 April 2019 04:57
Perang dagang antara Amerika Serikat dengan China menciptakan peluang baru bagi Indonesia. Hal ini terlihat dari beberapa perusahaan manufaktur Negeri Tirai Bambu yang ingin memindahkan basis produksinya ke Indonesia demi menghindari tarif tinggi yang dikenakan AS. Beberapa industri tekstil dan alas kaki global sedang mempertimbangkan pemindahan pabrik dari China ke Indonesia,  kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto di sela menghadiri perhelatan 2019 World Economic Forum Annual Meeting di Davos, Swiss, Kamis (24/1).
          Rencananya, pada tahun 2019, ada investor China yang bakal menanamkan modalnya sebesar Rp10 triliun di sektor industri tekstil. Investasi ini mengarah kepada pengembangan sektor menengah atau midstream, seperti bidang pemintalan, penenunan, pencelupan, dan pencetakan. Sementara itu, industri alas kaki nasional juga dilirik investor asing. Setelah komitmen penanaman modal dari dua perusahaan asal Korea Selatan beberapa waktu lalu, produsen asal China juga menambah investasinya di sektor ini.
            Firman Bakri, Direktur Eksekutif Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo), mengatakan salah satu perusahaan alas kaki asal China, yaitu Shoetown Group, akan menambah pabrik dengan bendera PT Shoetown Ligung Indonesia di Majalengka, Jawa Barat. Secara keseluruhan, total investasi yang dikucurkan Shoetown Group mencapai US$200 juta. Pada tahap pertama, perusahaan tersebut mengalokasikan anggaran sebesar US$42 juta. Rencana pabriknya besar, bisa menyerap sampai 20.000 tenaga kerja. Tahap awal jumlah tenaga kerja 1.500 orang dan dalam tahap vokasi 2.000 orang. Jadi dalam waktu dekat bisa 3.500 orang,” ujarnya belum lama ini. Lokasi pabrik yang diresmikan awal bulan Desember 2018, dekat dengan Bandara Kertajati, Jawa Barat.
            Menurut Firman, hal ini berarti pembangunan infrastruktur akan diikuti oleh investasi industri. Apalagi, di daerah Majalengka, upah minimum regional (UMR) lebih rendah dibandingkan dengan daerah lain, seperti Banten. Sektor alas kaki dalam negeri memang masih membutuhkan investasi baru untuk memenuhi kebutuhan global yang terus meningkat seiring dengan kebutuhan produk alas kaki dunia yang terus naik mengikuti pertumbuhan penduduk. Selain itu, perubahan struktur industri di China, mendorong banyak produsen alas kaki di negara tersebut hengkang. Padahal, permintaan global banyak berasal dari China, sehingga wajar ekspor alas kaki dari Indonesia terus meningkat. Firman menyebutkan, saat ini investor cenderung berinvestasi ke daerah dengan upah minimum kabupaten (UMK) yang rendah, seperti ke wilayah Jawa Tengah. Hal ini mengingat sektor alas kaki merupakan industri yang menyerap banyak tenaga kerja. (R)