Title
APRISINDO Berikan Masukan untuk Perundingan I-EU CEPA babak ke 7 di Brussels
Ditulis oleh Aprisindo   
Selasa, 23 April 2019 06:15
Sehubungan dengan akan diselenggarakannya perundingan yang ke 7 (tujuh) Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (I-EU CEPA) pada tanggal 11-15 maret 2019 di Brussels Belgia. Direktorat fasilitasi ekspor & impor Kementerian Perdagangan telah mengadakan pertemuan dengan beberapa asosiasi, diantaranya APRISINDO, API, Asosiasi Panel Kayu, Asosiasi Ban, Bea dan Cukai dan Kementerian Perindustrian pada tanggal 26 Pebruari 2019 untuk membahas penyusunan produk specific ruler (PSR).
          Direktur fasilitasi dan impor Olvi Andrianita dalam kesempatan tersebut mengharapkan agar para asosiasi dan instansi terkait dapat memberikan masukan sebagai bahan untuk perundingan I-EU CEPA ke tujuh tersebut. Selanjutnya Olvi mengharapkan agar dalam memberikan masukan lebih berhati-hati jangan sampai kita membuka pasar dalam negeri yang terlalu besar, hal ini dimaksudkan untuk melindungi pasar dalam negeri.  Jika barang atau jenis HS yang kita harapkan bisa masuk ke Uni Eropa maka jenis barang (HS) tersebut juga bebas masuk ke Indonesia atau sebaliknya. Untuk itu kita harus lebih inovatif dalam pemilihan produk agar kita bisa memanfaatkan dari  perjanjian tersebut dan mengambil peluangnya. Saat ini yang membuat  belum terlaksananya  kesepakatan perjanjian I-EU CEPA adalah karena sulitnya mencapai titik temu dari perjanjian ini, yaitu naik turunnya value addednya  mereka,  yaitu dikisaran 40  60 %, mereka juga konsen dengan lingkungan dan sistinabel serta transparansi. “ungkap Olvi.
           Sementara Ketua Pengembangan Sport Shoes & Hub. Luar Negeri APRISINDO Budiarto,  dalam kesempatan yang lain memberikan masukan, bahwa untuk Footwear ROO harus dibuat simple, jangan banyak requirement agar semua eksportir sepatu bisa memanfaatkan benefit nya. Jangan mensyaratkan local content pada persentase tertentu karena masih ada nya limitation supply chain untuk industry sepatu Indonesia, serta untuk Full Tariff Liberalism yang diberlakukan immediately (jangan bertahap), kita harus bisa mendapatkan lebih baik dari Vietnam untuk meningkatkan eksport Indonesia ke EU.
           Sementara sekjen APRISINDO Lany Sulaiman menjelaskan bahwa Indonesia untuk ekspor alas kaki ke Uni Eropa kalah dengan Vietnam, karena Vietnam sudah melakukan penandatanganan dengan EU-CEPA. Selanjutnya Lany Sulaiman menjelaskan bahwa alas kaki terdiri dari beberapa macam jenis, seperti  olag raga, safety, Casual dan anak dan terdiri dari beberapa komponen dalam satu produk, hal tersebut tentunya cukup sulit dalam menentukan jenis barang/HS yang telah ditentukan oleh pihak perunding Uni Eropa, untuk itu Lany Sulaiman mengharapkan ada pertemuan khusus antara APRISINDO dengan tim perunding dari Indonesia dalam hal ini Direktorat Fasilitasi Ekspor dan Impor beserta tim perunding guna membahas lebih spesifik agar supaya dalam memberikan masukan nanti lebih maksimal dan dapat menguntungkan industri alas kaki.
            Pada kesempatan tersebut ketua tim perunding I-EU CEPA dari Indonesia Riyanto Yosokumoro  
menyampaikan dalam perjanjian ini harus berhati-hati dan teliti, karena dalam perjanjian tersebut ibarat dua sisi mata pisau, jika kita membuka dengan luas agar barang kita bisa masuk ke Uni Eropa, maka merekapun akan dengan bebas masuk barang-barang mereka ke Indonesia dan ini akan berdampak tidak baik. Untuk itu kita harus lebih jeli khususnya dalam menentukan bagian-bagian dalam komponen bahan baku barang kita yang masuk dalam HS yang 0 %, seperti misalnya material  untuk bahan produksi barang seperti sepatu 50 % merupakan bahan baku dari lokal. Olek karena itu pelaku usaha agar lebih inovatif sehingga apa yang disyaratkan mereka dalam kandungan bahan baku bisa kita penuhi dan bisa mendapatkan BM 0 % . (R)