Title
Konferensi Press APRISINDO: Untuk Pertama Kalinya Dalam Sejarah, Ekspor Alas Kaki Indonesia Menembus angka USD 5 milyar
Ditulis oleh Aprisindo   
Selasa, 23 April 2019 06:44
Untuk turut serta dalam mensukseskan ILF 2019, APRISINDO menyelenggarakan konferensi perss supaya event tahunan tersebut liputan medianya semakin luas. Konferensi perss disampaikan oleh  Budiarto Tjandra, Ketua Pengembangan Sport Shoes & Hubungan Luar Negeri bersama Lany Sulaiman sekjen yang didampingi Direktur Eksekutif Firman Bakri Anom.
  Pada kesempatan tersebut Budiarto mengatakan apabila dilihat beberapa tahun ke belakang, ekspor alas kaki tumbuh pesat dalam jangka waktu 8 tahun. Pada 2002, nilai ekspor sepatu mencapai US$1,15 miliar dan tumbuh 118% pada 2010 menjadi US$ 2,50 miliar.  
     Selanjutnya, 8 tahun kemudian atau pada tahun lalu, nilai ekspor naik 104% menjadi US$ 5,11 miliar. Realisasi pada 2018 menjadi pertama kalinya ekspor alas kaki menembus angka US$ 5 miliar, hal tersebut merupakan pertama kalinya dalam sejarah. Ke depan kami targetkan dalam 5 tahun bisa dobel, ada akselerasi, hal ini disampaikan dalam konferensi pers APRISINDO kamis 4 April 2019 di Expo, Kemayoran Jakarta yang diliput oleh beberapa media cetak dan online.
          Lebih lanjut Budiarto mengatakan, target pertumbuhan ekspor dua kali lipat tersebut bisa tercapai melalui peluang-peluang yang ada, pasar Uni Eropa menjadi peluang peningkatan ekspor karena jumlah penduduk yang besar. Oleh karena itu, pemerintah diharapkan bisa segera menyelesaikan perjanjian perdagangan bebas dengan Uni Eropa agar produk alas kaki Indonesia bisa masuk dengan bea masuk yang rendah.
          Saat ini, produk alas kaki Indonesia dikenakan bea masuk sebesar 11% oleh pemerintah Uni Eropa. Sementara itu, negara tetangga Vietnam telah memiliki perjanjian dagang dengan Uni Eropa sehingga pertumbuhan ekspor negara tersebut tumbuh dua digit setiap tahun. Perang dagang antara Amerika Serikat dan China juga harus diambil untuk menarik investasi pabrik dari China untuk relokasi ke Indonesia. Untuk ini diperlukan paket yang menarik berupa tax holiday,” katanya.
        Selain itu, pemerintah juga diharapkan memberikan dukungan kepada industri yang telah ada di dalam negeri, di antaranya memberikan insentif pajak, membebaskan upah sektoral, serta mengembangkan industri bahan baku alas kaki. Vietnam saat ini menjadi pesaing utama Indonesia di kawasan Asia Tenggara. Pertumbuhan ekspor negara tersebut lebih tinggi dengan pertumbuhan sejak 1999 hingga 2018 sebesar 15,96% sedangkan Indonesia sebesar 8,47%.
          Sumber daya manusia (SDM) menjadi tantangan tersendiri bagi industri sepatu. Hal ini disebabkan dengan kenaikan upah minimum kota (UMK) dan upah sektoral. Tambahan biaya itu tentunya akan menaikkan biaya produksi dari produsen. Kemudian penambahan biaya ini bisa mengurangi daya saing," jelas Budiarto.
          Jika biaya produksi tinggi, dikhawatirkan pembeli akan memilih produsen yang menawarkan harga lebih murah. Dalam hal ini Budiarto mencontohkan pelaku industri sepatu di Banten yang merasa terbebani dengan UMK sebesar Rp3,9 juta dan upah sektoral. Meski ada yang memilih untuk bertahan, namun tidak sedikit juga yang melakukan ekspansi ke Jawa Tengah dan daerah-daerah lain yang dinilai memiliki UMK lebih rendah. Makanya kami sangat menyarankan di Banten itu jangan ditambah beban dengan upah sektoral lagi supaya mereka bisa tetap survive," jelas Budiarto.
          Sementara terkait masalah kulit, dimana untuk industri alas kaki untuk memenuhi kebutuhan produksi sebagian besar harus impor sekjen APRISINDO Lany Sulaiman menyampaikan bahwa industri penyamak kulit belum mampu memenuhi kulit dalam negeri hal tersebut karena bahan baku kulit kita juga masih impor, dan dalam impor sendiri mengalami kendala yaitu dengan adanya peraturan pemerintah Indonesia terkait PMK (penyakit mulut dan kulit) yang diterapkan untuk impor kulit dari negara tertentu, sehingga proses perijinannya pun memerlukan waktu yang cukup lama. Selain itu untuk buyer  yang memesan sepatu di Indonesia sebagian dari mereka juga telah menentukan jenis dan dari negara mana kulit untuk membuat sepatu yang mereka pesan, sehingga impor kulit untuk industri alas kaki akan selalu ada. (R)