Title
APRISINDO dan FTA CENTER Dorong Ekspor Alas Kaki ke Jepang
Ditulis oleh Aprisindo   
Jumat, 01 November 2019 07:19
APRISINDO bekerja sama dengan FTA Center Jakarta, Kementerian Perdagangan  telah menyelenggarakan Coaching Clinic ekspor dengan tema “ Potensi Ekspor Alas Kaki ke Jepang : Komoditi unggulan Alas Kaki”. Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 12 September 2019 di Fraser Residen Menteng, Jakarta.
     Tujuan kegiatan ini adalah untuk meningkatkan pemahaman kepada pelaku industri alas kaki tentang Free Trade Agreement (FTA) dan bagaimana cara memanfaatkannya, serta  memberikan wawasan mengenai tantangan dan kendala dalam melakukan ekspor ke negara mitra FTA serta solusinya dan memberikan informasi mengenai cara menyusun strategi promosi dan pemasaran berbasis online dan offline.
           Kegiatan clinic  ini diikuti oleh 13 pelaku industri alas kaki  yang memiliki potensi untuk ekspor, dengan menghadirkan nara sumber dari FTA Center Kemendag dan JETRO. Pelaksanaan kegiatan Coaching Clinic FTA Center berkaitan dengan kegiatan konsultasi, edukasi dan advokasi, juga sosialisasi. Dengan begitu, para pelaku usaha dapat berkomunikasi secara intensif mengenai kegiatan ekspor dan masalah atau kendala yang dihadapi.
              Pada kesempatan tersebut Sekjen APRISINDO Lanny Sulaiman menyampaikan bahwa coaching clinic ini bisa dimanfaatkan oleh industri alas kaki dengan sebaik-baiknya untuk mengembangan ekspornya. Khususnya ekspor ke Jepang mengingat saat ini industri alas kaki Indonesia sudah tersalip  dengan Vietnam, saat ini ekspor Vietnam sudah mencapai 15 milyar USD dan masuk urutan ke empat eksportir terbesar dunia, sedangkan ekspor Indonesia baru 5 milyar USD dan di posisi ke tujuh.
             Lebih lanjut Lany Sulaiman menjelaskan, dampak perang dagang antara China dengan AS semula diharapkan ada relokasi pabrik sepatu China ke Indonesia, ternyata justru sebagian besar relokasi ke Vietnam. Hal ini ada beberapa pertimbangan diantaranya jarak Vietnam dengan China lebih dekat bila dibandingkan dengan Indonesia, proses perijinan di Vietnam lebih muda bila dibandingkan di Indonesia, serta jam kerja Vietnam lebih banyak. Jika Indonesia dalam satu minggu 40 jam kerja di Vietnam 48 jam. “Ungkat Lanny Sulaiman.
             Sementara itu, menurut DR. Insan Fathir dari JETRO (Jakarta External Trade Organization menyampaikan bahwa JETRO merupakan lembaga pemerintah Jepang dibawah kementerian ekonomi dan perdagangan, mempunyai visi dan tugas untuk mempromosikan dan memfasilitasi hubungan perdagangan dan investasi antara Jepang dengan negara-negara lainya, salah satunya Indonesia. JETRO bekerja sama dengan KADIN telah memiliki website yang bisa dimanfaatkan oleh industri alas kaki untuk mengenalkan produknya dipasar internasional yaitu TTPP (Trade Tie-Up Promotion Program) yang dapat diuploot di https://www.jetro.go.jp/ttppoas/index.html  dan tidak dikenakan biaya bagi yang memanfaatkan website ini untuk mempromosikan produknya. 
                 Pada kesempatan yang sama Tim Ahli dari FTA Center Arie Putra menyampaikan Indonesia - Jepang Economic Partnership Agreement (IJEPA) merupakan perjanjian perdagangan bilateral pertama yang ditandatangani oleh Indonesia, hal ini menunjukan bahwa Jepang merupakan mitra dagang penting dan potensial bagi Indonesia.
                 Berdasarkan data market brief ITPC Osaka tahun 2017, untuk produk alas kali dengan HS Code 6402 Other Footwear with Outer Soles and Upper of Rubber or Plastics, Indonesia berada di urutan ketiga sebagai negara yang mengekspor alas kaki di pasar Jepang dengan nilai US$ 119.150 pada tahun 2016. Sementara untuk potensi ekspor Indonesia ke Jepang sebesar USS$ 2.59 miliar pada tahun 2016. Dari data tersebut, diketahui bahwa Indonesia masih berpeluang untuk meningkatkan ekspor.