Title
APRISINDO Memberikan Masukan Dalam Perundingan I-EU CEPA, di Belgia
Ditulis oleh Aprisindo   
Kamis, 19 Desember 2019 07:30
Dalam rangka persiapan perudingan Indonesia-European Union Comprehensive Ekonomi Partnership Agreement (I-EU CEPA) putaran ke 9 yang dilaksanakan tanggal 2-6 Desember 2019 di Brussels Belgia, Direktorat Perundingan Bilateral Kementerian Perdagangan pada tanggal 27 November 2019 telah mengadakan diskusi di Kemendag dengan beberapa asosiasi diantaranya APRISINDO, Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman, Asosiasi Pertekstilan Indonesia, GIAMM, GAIKINDO, APIKI, serta beberapa instansi pemerintah terkait.
           Pertemuan tersebut untuk membahas isu perkembangan produk potensial seperti sepatu, makanan dan minuman, tekstil, mesin dalam kerangka I-EU CEPA serta guna mendapatkan masukan dari beberapa sektor industri untuk dibawa ke perundingan.
          Menurut Direktur perundingan Bilateral Kemendag yang sekaligus sebagai ketua juru runding dari Indonesia Ni Made Ayu Marthini dalam kesempatan tersebut menyampaikan bahwa perjanjian I-EU CEPA merupakan amanat Presiden Jokowi dalam rangka untuk meningkatkan ekspor dan investasi.
          Disamping itu  agar kita bisa meningkatkan kerjasama dengan pasar tradisional seperti Afrika, serta segera menyelesaikan perjanjian dagang (FTA). Berdasarkan arahan dari Presiden bahwa perjanjian I-EU CEPA menjadi prioritas nasional dan ditargetkan agar dapat diselesaikan hingga semester ke dua tahun 2010. “ ungkap Made'.
         Lebih lanjut Made menjelaskan jika ekspor alas kaki Indonesia ke dunia mencapai USD 5,11 milyar atau 2,84 % dari total ekspor nasional ke dunia. Sedangkan untuk ekspor alas kaki Indonesia ke Uni Eropa  sebesar USD 1,69 milyar. Sementara posisi sektor alas kaki dalam perundingan awal I-EU CEPA ada 67 pos tariff yang dieliminasi (0%) pada saat perjanjian berlaku, 10 pos tariff di eliminasi dalam jangka 7 tahun, serta 1 pos tariff yang masih belum diidentifikasi yakni Sport Wear.
          Sementar menurut wakil ketua umum APRISINDO Budiarto Tjandra pada kesempatan tersebut menyampaikan bahwa tahun 2019 industri alas kaki terjadi penurunan, ekspor alas kaki dari januari singga September turun sebesar 13 %, hal tersebut salah satunya karena buyer pindah ke Vietnam. Industri sepatu sensitif tehadap penurunan tariff Bea masuk, dengan telah adanya perjanjian dengan Uni Eropa, maka Vietnam lebih diuntungkan dari pada Indonesia yang belum ada perjanjian, untuk itu Budiarto mengharapkan agar perjanjian I-EU CEPA bisa lebih percepat, karena hal sangat penting bagi industri sepatu.
          Lebih lanjut, Budiarto mengharapkan terkait sport wear yang belum diidentifikasi dalam perundingan I-EU CEPA , agar HS ini bisa dieliminasi dalam perundingan tersebut mengingat ekspor sepatu ke Uni Eropa sebagian besar adalah jenis sport wear.