Title
Industri Alas Kaki Dalam Masa Pandemi Covid-19 dan Masuk Fase Era New Normal
Ditulis oleh Aprisindo   
Senin, 07 September 2020 03:56
Masa pandemi Covid-19 dan new normal merupakan masa yang cukup sulit untuk industri alas kaki dalam menjalankan produksi, peraturan dan protokol yang diterapkan pemerintah cukup merepotkan.  Bahkan di Surabaya industri lokal yang tergolong industri kecil dan menengah untuk setiap karyawan dalam satu bulan perusahaan harus menyediakan masker satu lusin, kemudian sanitazer, bahkan dibeberapa daerah harus menjalani rapid tes.
     Untuk mengetahui kondisi kesehatan karyawan perusahaan juga dikunjungi petugas dari dinas kesehatan daerah setempat, hal tersebut disampaikan Ketua umum APRISINDO Eddy Widjanarko dalam acara webinar yang diadakan PT. Krista Media tanggal 3 Juli 2020.
        Lebih lanjut Eddy Widjanarko menyampaikan, ekspor alas kaki pada akhir awal tahun 2020 menunjukan peningkatan mencapai 8% dibandingkan tahun 2019, namun demikian bukan berarti order alas kaki terjadi peningkatan. Peningkatan ini harus dilihat bahwa ini terjadi karena industri masih menyelesaikan produksi yang diorder sebelum pandemi Covid-19 melanda Indonesia.
          Disamping itu ekspor alas kaki Indonesia didominasi sepatu olah raga atau sekitar 80%, sepatu olah raga merupakan brandid internasional yang memang ada kontrak khusus dan sifatnya berkelanjutan dari pemilik merek dengan industri alas kaki di Indonesia yang tergolong industri besar.
           Eddy Widjanarko juga menyampaikan, Vietnam merupakan negara pesaing utama produsen sepatu Indonesia, pada bulan Juni 2020 telah meratifikasi perjanjian dengan Uni Eropa. Akibatnya akan ada perbedaan bea masuk yang harus dibayarkan oleh produsen alas kaki Indonesia untuk ekspor ke Uni Eropa, yaitu sebesar 8% lebih tinggi dari Vietnam. Pasalnya bea masuk produk Vietnam  ke Eropa sudah 0%.
        Hal tersebut di atas tentunya akan berat untuk industry alas kaki Indonesia bisa bersaing dengan Vietnam. Kedepannya Eddy Widjanarko berharap agar pemerintah bisa membantu untuk mempercepat perjanjian Indonesia - EU CEPA. Harapannya posisi Indonesia dengan Vietnam bisa sama, khususnya disektor alas kaki.
          Industri alas kaki Indonesia mempunyai peluang menjadi tujuan utama relokasi dari China. Namun jika permasalah-permasalah yang ada saat ini, seperti banyaknya peraturan yang menghambat, adanya unjuk rasa dikhawatirkan akan mengakibatkan mereka cenderung memilih pindah ke Vietnam atau Kamboja, ungkap Eddy.    
         Masih pada acara webinar yang sama, wakil ketua umum APRISINDO Budiarto Tjandra yang juga Presiden Direktur PT. Panarub Industri menyampaikan ucapan terimakasih kepada Kementerian Perindustrian atas diberikannya ijin oprasional untuk industri alas kaki di masa pandemi Covid-19 ini.
         Lebih lanjut Budiarto menyampaikan pada masa new normal PT. Panarub Industri akan menjalankan produksinya dengan mengutamakan keselamatan dan kesehatan karyawan. Sementara masalah yang diahapi saat ini adalah bahan baku semakin susah dan pengiriman barang di pending.
         Dalam fase new normal PT. Panarub dalam proses produksi melakukan setrategi, yaitu  sistim kerja tidak offer time, dengan mengurangi tenaga kerja, cara kerja dengan social desanting, jam kerja diatur, pekerjaan dikerjakan dari rumah, pengiriman sample sepatu ke buyer dengan menggunakan elektronik atau internet.
          Dari segi kesehatan setiap karyawan yang akan masuk ke perusahaan dicek suhu badannya, serta disediakan tempat-tempat cuci tangan dan disediakan masker dan sanitizer. Disamping itu  PT. Panarub memproduksi masker sebagai incame perusahaan, 'ungkap Budiarto.
        Sementara sekjen APRISINDO Lany Sulaiman pada kesempatan tersebut menjelaskan, bahwa industri alas kaki Indonesia sebelum Covid-19 sudah tubuh lebih dari 2 dasawarsa. Puncaknya pada tahun 2018 dimana ekspor alas kaki mencapai USD 5,1 milyar. Tujuan utama yaitu Uni Eropa (33%), Amerika Serikat (27%) dan China (17%).
           Sedangkan industri alas kaki pada masa pandemi Covid-19, pada bulan Pebruari masa pandemic di China Industri alas kaki Indonesia mulai sulit bahan baku, bulan Maret retail lokal dikota besar mulai tertekan, pada bulan Mei industri yang ekspor mulai kehabisan order, dan Juni memasuli fase new normal.
           Lebih lanjut Lany Sulaiman mengatakan pada fase new normal, justru ada beberapa peraturan baru yang justru kontar produktif. Diantaranya BMPT impor kain yang berdampak pada kenaikan biaya bahan baku yang mencapai 30%, ketakutan yang berlebian pada penularan covis-19 pada pengaturan lalu lintas barang dan orang menjadi semakin sulit dan mahal (mis. Karantina antar daerah).
           Lany sulaiman berharap agar pemerintah Indonesia bisa menyelesaikan beberapa peraturan yang menghambat industry alas kaki,  serta mempercepat dan finalisasi perundingan EU-CEPA dengan posisi 0% untuk bea masuk  Indonesia ke Uni Eropa. (R)