Title
Untuk Bangkitkan Sektor Alas Kaki dan Garmen dari Keterpurukan Dampak Covid 19, APRISINDO , API dan APINDO adakan Kesepakatan Bersama dengan Serikat Pekerja
Ditulis oleh Aprisindo   
Senin, 07 September 2020 06:48
Merupakan momen bersejarah saat pengusaha dan pekerja sektor alas kaki dan garmen  berorientasi ekspor berkomitmen untuk sama-sama bangkit dari keterpurukan krisis akibat pandemi Covid-19. Ini adalah sebuah awal akan kerja panjang bersama kedepannya. Kesepakatan ini secara virtual ditandatangani pada tanggal 6 Agustus 2020.
         Komitmen ini ditandatangani oleh Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Asosiasi Persepatuan Indonesia (APRISINDO), Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) dan mewakili dunia usaha serta federasi/serikat pekerja tekstil dan alas kaki (Garteks KSBSI, FSP-TSK KSPSI, FTP-TSK SPSI dan SPN).
        Kesepakatan ini mempromosikan kepatuhan terhadap peraturan K3, mendorong kepatuhan terhadap peraturan perundangan dan berkomitmen untuk melakukan dialog sosial dalam menangani berbagai permasalahan serta mencapai kesepakatan yang saling menguntungkan.
           Peluncuran komitmen bersama untuk Asosiasi Pengusaha & Serikat Pekerja untuk melakukan aksi selama masa pandemi Covid-19 diikuti dengan dialog dengan pemerintah mengenai kebijakan & strategi untuk memulihkan kelangsungan usaha dan kesejahteraan pekerja.
           Dalam kesempatan tersebut, Dirjen Pembinaan Hubungan Industrial dan Jaminan Sosial Tenaga Kerja (PHI dan Jamsos) Kementerian Ketenagakerjaan Haiyani Rumondang menjelaskan, selain dari prosedur yang sudah ada, baik dari regulasi yang diatur oleh pemerintah juga yang diatur oleh perusahaan, adalah tidak kalah pentingnya menjaga komunikasi dua pihak, kalau di perusahaan, pekerjanya dengan perusahaannya.” pinta Haiyani'.
           Dalam kesempatan tersebut, Haiyani memuji penandatanganan komitmen bersama federasi serikat pekerja di sektor alas kaki, garmen dan asosiasi pengusaha yang bergerak di sektor tersebut yang dilakukan sebelum diskusi virtual. Yang lebih penting, bagaimana komitmen ini selain dipromosikan adalah disosialisasikan dengan baik, terdengar, dan terlihat. Jadi tidak hanya ditandatangani kemudian tersimpan ," kata dia.
        Sementara itu, menurut ketua umum APRISINDO Eddy Widjanarko dalam diskusi setelah ditandatanganinya kesepakatan tersebut menyampaikan, ada beberapa harapan dari industri alas kaki dalam masa pandemic covid ini, diantaranya bantuan permodalan dari perbankan, perjanjian Indonesia-Uni Eropa agar segera terealisasi dengan baik.
            Vietnam saat ini sudah menyelesaikan perjanjian dengan Uni Eropa, dengan demikian ekspor alas kaki Vietnam ke Eropa bea masuk sudah 0%, sementara Indonesia 8 %, hal ini tentunya sangat berat bagi industri alas kaki, mengingat Eropa merupakan tujuan utama ekspor alas kaki Indonesia. Dengan begitu Eddy Widjanarko menanyakan bagaimana komitmen pemerintah dalam rangkan mendorong industri alas kaki orientasi ekspor.
            Sedangkan Deputi Bid. Koordinasi ekonomi digital, ketenagakerjaan dan UMKM Dr. Ir. Muhammad Rudy Salahuddin dalam kesempatan yang sama menjelaskan, karena pandemi untuk menjaga kesehatan aktifitas menjadi terbatas. Perusahaan harus terus melakukan oprasional, namun harus mematui protokol kesehatan yang diatur pemerintah.  Dampaknya juga kepada PHK dan dirumahkan sebagian karyawan.
          Untuk membantu masalah ini pemerintah telah melakukan program stimulus yang diberikan melalui kementerian terkait, diantaranya bansos, program prakerja, pengurangan pajak Pph, pelatihan, bantuan bagi karyawan yang mendapatkan gaji dibawah Rp. 5 juta perbulan bagi anggota BPJS dan lainnya. Pada kesempatan tersebut Rudy Salahuddin juga menyampaikan kesediaannya untuk mengadakan diskusi kembali dengan APRISINDO untuk membahas masalah yang dihadapi industri alas kaki, sebagai tindak lanjut dari diskusi ini. (R)