Title
Kemenperind Dorong Pemulihan Industri Alas Kaki dan Kulit Pada Masa Pandemi Covid-19
Ditulis oleh Aprisindo   
Kamis, 22 April 2021 04:44
Industri Alas Kaki merupakan industri prioritas yang akan dikembangkan mengingat peranannya sebagai penyumbang ekspor dan penyerap tenaga kerja. Industri alas kaki, kulit dan barang jadi kulit pada tahun 2019 menyumbang ekspor bagi negara sebesar USD 5,12 miliar atau sebesar 4,02% terhadap total ekspor industri pengolahan dan menyerap lebih dari 790 ribu tenaga kerja atau sebesar 4,3% terhadap total tenaga kerja. Hal ini disampaikan dirjen industri kimia, tekstil dan aneka M. Khayam dalam pembukaan pameran virtual produk alas kaki, kulit dan barang jadi dan webinar pemulihan industri alas kaki dan kulit pada masa pandemi covid 19 pada (15/12/2020).
        Lebih lanjut M. Khayam menjelaskan, sampai dengan triwulan III 2020 dampak pandemi covid-19, pertumbuhan industri alas kaki, kulit dan barang dari kulit mengalami pertumbuhan negative -9,66%. Sementara ekspor alas kaki, Kulit dan barang dari kulit justru mengalami kenaikan sebesar 5,20% pada periode Januari sampai dengan September tahun 2020 menjadi USD 3,98 miliar dari sebelumnya USD 3,78 miliar pada periode yang sama tahun 2019. “ungkapnya”.
        Khusus untuk industri alas kaki, Pemerintah terus berupaya memberikan insentif dan kebijakan serta menciptakan iklim usaha yang kondusif. Hal ini dilakukan untuk mendorong industri alas kaki untuk terus meningkatkan kapasitas produksinya guna memenuhi pasar dalam negeri sebagai substitusi impor maupun sebagai upaya peningkatan ekspor, antara lain melalui:
(Pertama). Peningkatan kapasitas dan kapabilitas industri existing dengan kemudahan akses terhadap bahan baku, peningkatan kompetensi SDM melalui pendidikan vokasi yang link and match antara SMK dengan industri serta implementasi peta jalan Making Indonesia 4.0
Khususnya ada sektor alas kaki dalam menyongsong revolusi industri keempat.
         (Kedua). Memberikan Insentif Kemudahan Lokal Tujuan Ekspor (KLTE) dan Kemudahan Lokal Tujuan Lokal (KLTL) untuk penggunaan bahan baku dari dalam negeri, (Ketiga). Promosi Dan Optimalisasi Perjanjian Perdagangan, (Keempat). Meningkatkan kapasitas dan kerjasama LN untuk produk dengan demand tinggi, (Kelima). Promosi dan pemulihan Permintaan Dalam Negeri dan pengamana pasar dalam negeri, serta (Keenam). Melakukan pemberian insentif dan penyederhanaan beberapa regulasi.
           Sementara pada kesempatan yang sama, Sekjen APRISINDO Lany Sulaiman menjelaskan bahwa bahan baku menjadi masalah industry alas kaki, mengingat hampir 60% harus impor. Untuk selanjutnya kesepakatan perjanjian dagang EU CEPA, hingga kini Indonesia dengan Uni Eropa belum terealisasi sementara Vietnam sebagai negara pesaing kita sudah.
           Namun demikan, dengan adanya UU Cipta kerja diharapkan kedepan industry alas kaki akan bisa terbantu. Selanjutnya Lany juga berharap penguatan penguasan pasar dalam negeri, seperti misalnya pengutan branding produk Indonesia, penerapan hari alas kaki nasional dengan mewajibkan pemakaian alas kaki buatan Indonesia, meningkatkan dan memfasilitasi pameran dan bazzar produk buatan Indonesia, seperti misalnya penyelenggaraan SKF seperti tahun-tahun sebelumnya.
           Sementara Direktur industri tekstil, kulit dan alas kaki Euis Masito dalam kesempatan yang sama menyampaikan, bahwa pameran virtual produk alas kaki, kulit, dan produk jadi yang diselenggarakan tanggal 15-31 Desember 2020 ini merupakan awal dari kegiatan pemeran. Jumlah peserta pameran ada 26 perusahaan dari jumlah tersebut ada 14 anggota APRISINDO yang ikut.
            Untuk tahun depan dalam rangka mendorong produk alas kaki, kulit dan produk jadi buatan  dalam negeri, Kemenperind akan mengadakan pameran SKF  seperti tahun sebelumnya namun tentunya dengan keterbatasan. “imbuh Euis”.