Title
BIN Dorong Pertumbuhan Industri Alas Kaki dimasa Pandemi Covid 19
Ditulis oleh Aprisindo   
Kamis, 22 April 2021 05:01
Deputi  IV bidang keamanan dan perdagangan Badan Intelijen Nasional (BIN) , saat ini sedang fokus mengkaji kondisi industri alas kaki. Pada tanggal 14 Desember 2020 Haris Sunarto dan Januar Salang dari BIN telah mengadakan kunjungan kerja ke sekretariat APRISINDO. 
     Kunjungan tersebut dimaksudkan untuk mendapatkan masukan secara langsung dari APRISINDO mengenai kondisi industri alas kaki termasuk diantaranya mengenai rantai pasoknya.
        Kajian yang dilakukan oleh BIN akan menjadi bahan rumusan kebijakan yang akan langsung disampaikan kepada Presiden.  Untuk mendalami permasalahan pada rantai pasok di Industri alas kaki, BIN akan melakukan sejumlah kunjungan lapangan ke pabrik-pabrik anggota APRISINDO.
         Dalam kesempatan tersebut Direktur Eksekutif Firman Bakri menyampaikan, bahwa orientasi industri alas kaki ada dua, yakni pasar ekspor dan domestik. Karakter industri ini sangat berbeda, jika industri orientasi pasar domestik langsung terdampak akibat covid, hal ini karena daya beli masyarakan juga turun dan masyarakat juga lebih mengutamakan untuk kebutuhan hidup sehari-hari.
        Lebih lanjut Firman Bakri juga menyampaikan, bahwa permasalahan yang dihadapi industri alas kaki salah satunya adalah PMK No.55 Tahun 2020 tentang Pengenaan Bea Masuk Tindakan Pengamanan Impor Produk Kain. Pengenaan bea masuk tambahan sebesar rerata Rp. 5.000,- / meter mengakibatkan bahan baku tekstil (kain) untuk industri alas kaki menjadi semakin mahal, bahkan besaran kenaikan bahan bakunya bisa mencapai 30%  dari harga normal.
          Selanjutnya yaitu Permendag 68 Tahun 2020 tentang Ketentuan Impor Alas Kaki, Elektronik, dan Sepeda Roda Dua dan Roda Tiga. Pada bulan Agustus 2020 Kementerian Perdagangan menerbitkan Ketentuan yang membatasi impor, khususnya untuk produk alas kaki (HS 64). Latar belakang dari diterbitkannya Permendag adalah karena adanya lonjakan impor pada bulan Juni 2020 jika dibanding dengan impor pada bulan sebelumnya.
          Sebenarnya yang menjadi masalah untuk impor produk sepatu yaitu produk yang harganya murah seperti sepatu-sepatu yang saat ini banyak dijual dipinggiran jalan dengan harga dikisaran 50.000 -150.000 karena produk Indonesia tidak akan mampu bersaing dipasar dengan harga sepatu impor tersebut. ' lanjut Firman. (R)