Title
INDUSTRI SEPATU DIPERKIRAKAN TUMBUH 3,5% PADA TAHUN 2018
Ditulis oleh Aprisindo   
Jumat, 02 Maret 2018 04:02
Asosiasi Persepatuan Indonesia (Asprisindo) meyakini pertumbuhan industri alas kaki lebih baik pada tahun ini yang didorong oleh realisasi beberapa pabrik baru. Sepanjang 2017 pertumbuhan industri alas kaki yang dilihat berdasarkan nilai ekspor, hanya tumbuh sebesar 2% ke angka US$4,7 miliar dari US$4,6 miliar.
    Tahun ini lebih baik dengan realisasi pabrik baru di Jawa Tengah, seperti di Jepara dan Brebes, tetapi tidak bisa berharap banyak, perkiraan optimistis pertumbuhan industri alas kaki pada tahun ini sebesar 3,5%. Adapun, proyeksi angka pertumbuhan yang tidak terlalu tinggi tersebut salah satunya disebabkan oleh masalah yang belum terselesaikan hingga saat ini, yaitu lemahnya industri pendukung. Industri pendukung dalam negeri yang belum berkembang, menyebabkan pelaku industri alas kaki mengimpor bahan baku. Kondisi ini mengakibatkan biaya produksi lebih tinggi dibandingkan produk negara lain, sehingga melemahkan daya saing produk nasional.
      Oleh karena itu, pelaku industri alas kaki sangat menunggu upaya pemerintah untuk mengembangkan industri pendukung, seperti industri penyamakan kulit. Para investor bakal enggan menanamkan modal di dalam negeri untuk industri pendukung apabila pemerintah tidak memberikan insentif, misalnya berupa keringanan pajak, karena kalah bersaing dengan produk China yang lebih murah biaya produksinya.
Kalau industri pendukung ada, industri alas kaki tidak perlu mengimpor banyak bahan pendukung. Industri pendukung  juga bisa untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri dan ekspor sehingga bisa meningkatkan nilai tambah.
       Meski nilai ekspor terus mengalami peningkatan, namun industri alas kaki was-was setelah Vietnam berhasil melakukan perjanjian dagang dengan Amerika dan Eropa, sehingga memangkas bea masuk ke dua kawasan tersebut. Saat ini perjanjian tersebut masih dalam pembahasan.
Sementara Indonesia tidak memiki kesepakatan apapun dengan dua pasar potensial tersebut, sehingga antara harga produksi Indonesia lebih tinggi hingga 11% dibanding Vietnam. Meski begitu, eksporti sedikit terbantu dengan adanya fasilitas sistem preferensi umum (GSP) dari Eropa, sehingga bea masuk tidak terlau tinggi.
     Aprisindo berharap pemerintah mendukung ekspor sepatu dengan menyelesaikan permasalahan internal yakni meningkatkan daya saing investasi, mengurangi high cost economy lahan, baik di pelabuhan, bea cukai hingga dukungan logistik dan infrastruktur. Pemerintah juga segera menyelesaikan perjanjian eskpor yang sedang digodok untuk pasar Eropa dan Amerika. Selain itu, persoalan Undang-undang Ketenagakerjaan yang kondusif, perpajakan yang bersahabat, biaya logistik dan sistem perpajakan yang baik, disinyalir akan membantu pertumbuhan ekspor sepatu tahun ini.
      Selama ini, kawasan Amerika dan Eropa menjadi pasar utama dengan kontribusi tinggi. Pasar Amerika menyumbang total ekspor sepatu sekitar 25%-29%,sedangkan Eropa hingga 35%. Di samping itu, kawasan Timur Tengah juga menjadi pasar yang cukup menjanjikan dengan daya beli tinggi, namun jumlah penduduk yang sedikit membuat kawasan ini berada di bawah dua kawasan lain.(Redaksi Aprisindo)