Title
Disperindag Kota Tangerang Dorong Pertumbuan Ekspor Alas Kaki
Ditulis oleh Aprisindo   
Selasa, 18 Desember 2018 07:14
Produk alas kaki merupakan andalan utama dan menduduki urutan pertama untuk produk ekspor  kota Tangerang, untuk berikutnya adalah produk Tekstil, Garmen, kakao dan produk plastik, hal tersebut disampaikan Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Tangerang Agus Sugiono pada pembukaan sosialisasi kebijakan prosedur dan dokumen ekspor Impor yang berlangsung pada tanggal 30-31 Oktober 2018 di Tangerang.
       Lebih lanjut Agus menjelaskan, perekonomian di Indonesia sedang bergejolak khususnya dari segi harga yang fluktusasi karena nilai mata uang dollar terhadap rupiah yang cukup tinggi, sehingga ekspor diwilayah Tangerang juga menurun. Agus juga menyampaikan, bahwa Kota Tangerang merupakan lokasi yang strategis untuk berinvestasi karena Tangerang dekat dengan Bandara dan juga mempunyai akses transportasi yang memadai sebab dilalui oleh jalan tol menuju pelabuhan merak dan Tanjung Priok serta Jakarta. Saat ini Kota Tangerang mempunyai tiga program yaitu; Layak huni, dengan infrastruktur yang ada kota Tangerang sudah layak sebagai hunian yang nyaman; Ivestibel, kota Tangerang siap untuk dijadikan tempat untuk berinvestasi dan Isiti, berkembang untuk masyarakat. Dari segi keamanan wilayah Tangerang juga cukup kondusif. Nilai ekspor Kota Tangerang hingga September 2018 sebesar USD 1,95 milyar dan Impor USD 1,4 milyar.
          Dengan adanya sosialisasi kebijakan prosedur dan dokumen ekspor impor tersebut diharapkan para pelaku industri akan bisa lebih memahami aturan dan prosedur ekspor impor, serta untuk meningkatkan nilai ekspor produk industri di wilayah Tangerang, Sosialisai dihadiri oleh sekitar 200 peserta dari perwakilan perusahaan diwilayah Tangerang , diantaranya dari industri alas kaki, garmen, coklat, plastik dan importir. Pada kesempatan tersebut mengadirkan nara sumber dari Kementerian Perdagangan serta Bea dan Cukai.
       Menurut Simbolon dari Direktorat Ekspor produk industri dan pertambangan Kementerian Perdagangan menjelaskan, bahwa  Saat ini pemerintah sedang menggalakan ekspor produk Indonesia, karena dengan adanya peningkatan ekspor ini pertumbuhan ekonomi negara akan meningkat, dengan kondisi sekarang dimana nilai USD terhadap rupiah yang cukup tinggi yakni dikisaran Rp. 15.000/dollar, tentunya akan menguntungkan bagi pelaku usaha yang melakukan ekspor, untuk itu Simbolon selaku ketua yang membawai industri alas kaki dan aneka di direktorat industri dan pertambangan Kemendag mengajak agar  pelaku usaha bisa memanfaatkan peluang yang ada dimana saat ini Amerika Serikat (AS) dan China sedang terjadi perang dagang dimana AS membatasi impor dari China, maka kesempatan ini bisa dimanfaatkan oleh Indonesia untuk meningkatkan ekspor ke AS. Lebih lanjut Simbolon menyampaikan, pada prinsipnya semua barang bebas untuk diekspor, kecuali barang Dibatasi Ekspor,  barang Dilarang Ekspor, atau ditentukan lain oleh undang-undang   Sesuai Permendag No. 13/M-DAG/PER/3/2012 Tentang Ketentuan Umum di Bidang Ekspor dan Permendag No. 44/M-DAG/PER/7/2012 Tentang Barang Dilarang Ekspor bahwa  terhadap  Barang yang Bebas / Tidak dilarang ekspornya dapat dilakukan eksportasi dengan beberapa persyaratan.
               Sementara Direktorat fasilitasi Bea dan Cukai Agung Prasetyo, menjelaskan bahwa fasilitas yang diberikan oleh bea dan cukai kepada pelaku eksportir dan importir ada dua, yaitu fasilitas fiskal yakni Insentif di bidang perpajakan yang ditujukan kepada industri, perdagangan, dan pihak-pihak tertentu sesuai dengan tujuan yang diinginkan undang-undang dan fasilitas prosedural yakni bentuk perlakuan khusus untuk kelancaran proses formalitas kepabeanan yang menyangkut kelancaran arus   barang, orang maupun dokumen. Fasilitas fiskal bisa dalam bentuk Pembebasan Bea Masuk, keringanan Bea Masuk, Pengembalian Bea Masuk, Penangguhan Bea Masuk, Tarif preferensi, BMDTP, Pemberian insentif mendukung perekonomian. Sementara fasilitas prosedural untuk kelancaran barang bisa dalam bentuk pelayanan segera (rush handling), pembongkaran dan penimbunan barang impor di tempat lain selain kawasan pabean dan TPS, pemeriksaan barang impor di gudang atau lapangan penimbunan milik importir, pemeriksaan pendahuluan dan pengambilan contoh untuk pembuatan PIB, pengeluaran barang impor dengan penangguhan pembayaran bea masuk, cukai dan pajak dalam rangka impor (Vooruitslag), dan pembayaran berkala.