Title
Temu Usaha Industri Aneka, Alas Kaki dan Kulit bersama Menkeu dan Menperin
Ditulis oleh Aprisindo   
Rabu, 15 Maret 2017 03:58




Industri Alas Kaki, Kulit dan Aneka merupakan industri setrategis dan prioritas karena perannya sebagai penghasil devisa negara dengan nilai ekspor USD 12.28 milyar atau 8,17% dari total ekspor nasional pada tahun 2015, menyerap tenaga kerja 1,1 juta orang atau 7,7% dari total tenaga kerja industri manufaktur dan nilai investasi mencapai Rp. 22,8 triliun. Khusus industri alas kaki mampu menyerap tenaga kerja langsung sebesar 750.000 orang. Melalui ekspansi beberapa perusahaan alas kaki kebeberapa daerah  hingga tahun 2017, industri ini diperkirakan akan menyerap tenaga kerja baru lebih dari 30.000 orang.

    Beberapa permasalahan yang dihadapi industri alas kaki/sepatu yaitu ketergantungan yang  tinggi terhadap bahan baku serta asesoris impor, peraturan mengenai tenaga kerja asing, khususnya teknisi instalasi mesin dan tenaga ahli produksi, serta terbatasnya SDM industri yang kompeten. Diperlukan beberapa insentif/kebijakan untuk mendongkrak pertumbuhan dan mengatasi permasalah pada industri alas kaki, kulit dan aneka.
   Permasalah tersebut tentunya tidak bisa diselesaikan sendiri oleh Kementerian Perindustrian, oleh karena itu diperlukan kerjasama dan koordinasi lintas sektoral, dan untuk itu Kemenperin mengadakan  temu usaha industri aneka, alas kaki, kulit dan fesyen pada tanggal 1 November 2016, bertempat di kantor Kemenperin yang dihadiri Menteri Keuangan Ibu Sri Mulyani, Menteri Perindustrian Bapak Airlangga Hartarto, perwakilan dari Kemendag, Kemenhub serta Bea dan Cukai dan para pelaku industri kulit, alas kaki, aneka dan feshen guna membahas  berbagai permasalahan yang dihadapi industri tersebut.
      Dalam kesempatan tersebut, Ketua Sport Shoes dan Hub. Luar Negeri Aprisindo Bapak Budiarto Tjandra menyampaikan beberapa permasalahan yang dihadapi industri alas kaki kepada Menperin, dimana industri ini untuk komponen sepatu  40%  dari lokal, sementara China dan Vietnam sebagai negara pesaing, 80% sudah disuplay dari dalam negeri, untuk itu apakah ada rencana pemerintah untuk mengembangkan industri komponen di tanah air. Perlu diperhatikan juga GSP untuk ekspor ke EU yang masa berlakunya akan habis tahun 2018 untuk itu agar dipercepat perpanjangannya, sebelum terlaksana FTA - EU-Indonesia  serta  Trans-Pacific Partnership (TPP),  karena bila hal ini tidak segera diselesaikan akan mengganggu ekspor alas kaki. 
      Dari beberapa masalah yang disampaikan Bapak Budiarto, Menteri Perindustrian Bapak Airlangga menyampaikan bahwa, masalah FTA EU-Indonesia maupun TPP menjadi agenda Kemenperin,  pada kesempatan pertama  TPP dan EU agar bisa dijaga, sementara FTA  EU memerlukan proses panjang yang harus mendapatkan persetujuan negara-negara Uni Eropa dan memerlukan waktu 4 tahun. Sedangkan masalah komponen Pemerintah telah menurunkan harga gas untuk industri, hal ini bertujuan agar industri komponen bisa dibangun dan asosiasi diharapkan dapat mendukung, terlebih saat ini industri alas kaki memasuki babak kedua. Sebelumnya industri alas kaki pindah ke negara China, Kini investor kembali lagi membangun industri alas kaki di Indonesia, ungkap Menperin. Terkait masalah Tenaga Kerja Asing (TKA), Menteri Perindustrian sudah mengadakan pertemuan dengan Menaker untuk membahas masalah TKA di Indonesia. 
      Dalam temu usaha industri aneka, alas kaki, kulit dan fesyen,  Menteri Keuangan  Ibu Sri Mulyani menyampaikan bahwa industri yang potensi menciptakan lapangan kerja dan menciptakan kreatifitas untuk pertumbuhan ekonomi, akan mendapatkan dukungan. Untuk itu industri diharapkan lebih inovasi dalam menciptakan produk yang dihasilkan. Terkait peraturan atau pun petugas yang menghambat proses industri agar dilaporkan ke Kemenkeu untuk diadakan perbaikan, baik aturan maupun petugas dilapangan. Sementara atas permintaan Ketua APKI agar impor kulit mentah dilarang, hal ini tidak dimungkinkan, namun hal ini bisa dibantu melalui aturan Bea Masuk.(R)