Title
Conference International Footwear Association (CIFA) ke 35
Ditulis oleh Aprisindo   
Kamis, 16 Maret 2017 06:14
Untuk yang ke 35 kalinya kembali telah dilangsungkan Conference International Footwear Association (CIFA), pada kesempatan kali ini sebagai tuan rumah adalah Taiwan dan dilaksanakan di Taipei pada tanggal 10-12 November 2016. CIFA ke 34 ini diikuti oleh 14 organisasi dari 12 negara di Asia, yaitu dari China, Vietnam, India, Hongkong, Indonesia, Jepang, Malaysia, Filipina, Korea, Thailand, Taiwan dan Bangladesh. Hadir sebagai perwakilan dari Asosiasi Persepatuan Indonesia (APRISINDO) adalah Ketua Umum Bapak Eddy Widjanarko.
       Pada konfensi tersebut masing-masing negara berkesempatan memberikan presentasi tentang industri alas kaki dinegaranya masing-masing yang meliputi produksi, potensi pasar domestik dan proyeksi pertumbuhan ekspor dan pasar domestik. Pada kesempatan tersebut Bapak Eddy Widjanarko memberikan presentasi beberapa hal terkait industri alas kaki di Indonesia, diantaranya :
(a). Potensi Pasar Domestik, dengan populasi lebih dari 250 juta orang, Indonesia memiliki pangsa pasar yang sangat besar dari pasar alas kaki di dalam negeri. Pada 2015, konsumsi alas kaki Indonesia adalah 1,8 pasang per kapita, lebih rendah dari konsumsi dunia rata-rata (2,5 pasang per kapita). Dengan demikian peluang pasar domestik masih sangat besar.
(b). Ketersediaan Terampil Tenaga Kerja, Jumlah angkatan kerja di Indonesia pada tahun 2014 sebesar 121 872 931 (Bekerja: 114 628 026, dan pengangguran: 7244905), yang 80% memiliki tingkat pendidikan sekolah dasar dan menengah. Di satu sisi tenaga kerja ini merupakan potensi besar sebagai modal manusia jika diikuti dengan meningkatkan keterampilan dan produktivitas.
(c). Program untuk mendorong pertumbuhan industri alas kaki. yaitu dengan menjaga upah minimum di sektor industri agar Intensif untuk menjadi kompetitif dan mampu bersaing di industri alas kaki global; kebijakan pembangunan industri alas kaki dari hulu dan hilir dalam kebijakan yang komprehensif dan berkelanjutan, serta insentif dan afirmatif policy untuk mengatasi masalah jangka pendek - menengah; pemerintah proaktif berkolaborasi pada Perjanjian Perdagangan Bebas dengan negara tujuan utama ekspor (Amerika dan Eropa); Iklim usaha yang kondusif untuk menarik investor.