IMF memperkirakan pertumbuhan ekonomi global pada tahun 2024 cenderung stagnan, baru akan meningkat di tahun 2025. Gejolak perekonomian tercermin dari inggris dan Jepang yang mengalami resesi pada semester II tahun 2023, juga keputusan pemerintah Jerman dan Prancis yang menurunkan ekspektasi pertumbuhan ekomoni.
Ditengah resiko dan tantangan global, indikator ekonomi makro Indonesia menjadi salah satu yang terbaik di negara G20. Pertumbuhan PDB pada Q4 tahun 2023 sebesar 5,04% urutan ke lima negara-negara G20 setelah China 5,2%, Russia 5,5%, Philippina 56% dan Turki 5,9%.
Pulau Jawa merupakan bagian penting dalam menyokong ekonomi nasional. Perekonomian Jawa Tengah pada triwulan IV 2023 menempati urutan kelima pertumbuhan ekonomi di Pulau Jawa. Urutan pertama pertumbuhan tertinggi adalah Jawa Barat (5,15% yoy), kemudian DIY (4,86% yoy), DKI Jakarta (4,85% yoy), lalu Banten (4,85%) dan Jawa tengah (4,73% yoy).
Dari sisi pangsa, Jawa Tengah memiliki kontribusi besar terhadap perekonomian di pulau Jawa yaitu sebesar 14,45%, serta perekonomian nasional yang memiliki kontribusi sebesar 14%. Nilai investasi di Jawa Tengah selama kurun waktu 2023 tercatat naik mencapai 12,59% dari Rp. 68,4 triliun di tahun 2022 menjadi Rp.77,02 triliun dan menyerap tenaga kerja sebanyak 280.643 orang. Investasi Pemilik Modal Dalam Negeri (PMDN) Rp. 32,98 triliun dan (Pemilik Modal Asing) PMA tercatat Rp. 23,14 triliun.
Realisasi investasi PMA di Jawa Tengah didominasi industri padat karya yakni sektor industri alas kaki dan barang dari kulit yang nilainya tercatat mencapai Rp 5,362 triliun, yang kemudian diikuti oleh industri mesin, elektronik, instrumen kedokteran sebesar Rp. 2,776 triliun serta industri tekstil sebesar Rp. 2,474 triliun.
Beberapa wilayah yang menjadi idola untuk investasi disektor alas kaki diantaranya adalah Brebes, Jepara, Pekalongan, Salatiga, Kendal dan lainnya. Namun demikian ada beberapa hal yang masih jadi kendala yang dapat menghambat jalannya investasi tersebut yang harus ditangani. Kendala tersebut yaitu masih terbatasnya jumlah SDM yang sesuai dengan yang dibutuhkan, Masalah perizinan yang cukup mengambat seperti izin amdal, serta kesiapan lahan dan kawasan industri.
Oleh karena itu ada beberapa hal yang harus dilakukan oleh stake holder dan pemerintah untuk mendukung perwujudan investasi berdaya saing di Jawa Tengah, diantaranya; Koordinasi intensif dengan instansi horizontal dan vertikal dalam identifikasi potensi realisasi investasi di Jawa Tengah; Melakukan evaluasi kebijakan / regulasi yang mendukung investasi di Jawa Tengah khususnya terkait insentif kemudahan berusaha; Pengawalan dan fasilitasi pada perizinan berusaha berbasis risiko serta penyelesaian permasalahan penanaman modal pada pelaku usaha di Jawa Tengah; Peningkatan daya saing tenaga kerja berkompeten yang secara simultan mempengaruhi upah tenaga kerja di Jawa Tengah; Optimalisasi dalam memprioritaskan kemitraan investasi usaha besar dan UMKM di Jawa Tengah; serta Meningkatkan infrastruktur dan infrastruktur pendukung pada wilayah potensi investasi di Jawa Tengah. (Redaksi)

