Asosiasi Persepatuan Indonesia (APRISINDO) kembali menunjukkan peran aktifnya di tingkat internasional dengan berpartisipasi dalam The 43rd International Footwear Conference (IFC) yang diselenggarakan oleh Conference International Footwear Association (CIFA) di Phnom Penh, Kamboja. Forum bergengsi ini menjadi wadah bagi berbagai asosiasi industri alas kaki dari berbagai negara untuk bertukar informasi, membahas tantangan global, serta memperkuat kerja sama dalam menghadapi dinamika industri yang terus berkembang.
Pada penyelenggaraan IFC ke-43, APRISINDO diwakili oleh Sekretaris Jenderal APRISINDO, Yoseph Billie Dosiwoda, yang hadir bersama para delegasi dari berbagai negara anggota CIFA. Kehadiran APRISINDO dalam konferensi ini merupakan bagian dari komitmen organisasi untuk terus memperkuat jejaring internasional sekaligus mempromosikan potensi industri alas kaki Indonesia di pasar global.
Dalam sesi pemaparan negara (country report), APRISINDO menyampaikan perkembangan terkini industri alas kaki Indonesia yang mencakup berbagai aspek strategis, mulai dari kinerja ekspor dan impor, perkembangan investasi, hingga kondisi ketenagakerjaan. Laporan tersebut memberikan gambaran menyeluruh mengenai bagaimana industri alas kaki nasional terus menunjukkan daya tahan dan kemampuan beradaptasi di tengah berbagai tantangan ekonomi global.
APRISINDO menjelaskan bahwa Indonesia masih menjadi salah satu produsen alas kaki terbesar di dunia dengan kemampuan memproduksi berbagai jenis produk untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik maupun internasional. Dukungan investasi yang terus mengalir ke sektor manufaktur alas kaki turut menjadi faktor penting dalam meningkatkan kapasitas produksi, mendorong transfer teknologi, serta menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat.
Selain itu, kondisi tenaga kerja Indonesia yang didukung oleh sumber daya manusia yang kompeten dan berpengalaman menjadi salah satu keunggulan kompetitif industri alas kaki nasional. Melalui peningkatan kualitas SDM, pengembangan teknologi produksi, serta penerapan standar keberlanjutan, industri alas kaki Indonesia diharapkan mampu mempertahankan daya saingnya di pasar internasional.
Dalam forum tersebut, para peserta juga berdiskusi mengenai berbagai isu strategis yang sedang dihadapi industri alas kaki global, seperti perubahan tren konsumsi, transformasi digital dalam proses produksi, penerapan prinsip keberlanjutan (sustainability), ketahanan rantai pasok, hingga tantangan perdagangan internasional. Pertemuan ini menjadi kesempatan bagi setiap negara anggota untuk saling berbagi pengalaman dan mencari solusi bersama dalam menghadapi tantangan industri di masa depan.
Keikutsertaan APRISINDO pada International Footwear Conference ke-43 juga menjadi momentum penting untuk mempererat hubungan dengan asosiasi persepatuan dari berbagai negara serta membuka peluang kerja sama yang lebih luas, baik dalam bidang perdagangan, investasi, inovasi teknologi, maupun pengembangan sumber daya manusia.
Melalui partisipasi aktif dalam forum internasional seperti IFC, APRISINDO berharap industri alas kaki Indonesia dapat terus meningkatkan daya saing, memperluas akses pasar ekspor, serta memperkuat posisinya sebagai salah satu pemain utama dalam industri alas kaki dunia. Kolaborasi internasional yang terjalin melalui CIFA diharapkan mampu memberikan manfaat nyata bagi perkembangan industri nasional sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia secara berkelanjutan.(redaksi)


